silent breeze

Senin, 04 April 2011

Sukses Jalani Misi, Discovery Masuk Museum

Posted by Nisa Ulkhairia | Senin, 04 April 2011 | Category: | 0 komentar


Pesawat ulang-alik itu memegang rekor terbanyak dalam menjalani misi antariksa.
VIVAnews - Pesawat ulang alik Amerika Serikat, Discovery, berhasil mendarat dengan mulus setelah melakukan misi terakhir di angkasa luar. Selanjutnya, pesawat yang berdinas selama 27 tahun itu akan masuk museum.
Menurut kantor berita Associated Press, Discovery bersama enam awak mendarat di Florida jelang Rabu tengah hari waktu pesisi timur AS (Rabu tengah malam WIB) setelah sebelas hari di antariksa.
"Untuk terakhir kali, semua roda akhirnya berhenti," begitu reaksi komandan awak merangkap pilot, Steven Lindsey, setelah Discovery benar-benar berhenti bergerak di landasan.

Semua kru Badan Antariksa AS, NASA, di stasiun peluncuran misi antariksa Florida ramai-ramai menuju landasan untuk memberi salam perpisahan kepada Discovery, yang akan diangkut ke museum. "Kepada pesawat yang berulang kali menjalani dinas, kami mengucapkan 'Selamat tinggal Discovery,'" kata Direktur Pengendali Misi, Joshn Byerly.  

Diantara semua pesawat ulang-alik milik AS, yang semuanya juga akan dipensiunkan, Discovery memegang rekor terbanyak dalam menjalani misi antariksa. Pertama kali meluncur pada 1984, pesawat itu menjalani 39 kali misi dengan jarak keseluruhan 148 juta mil, 5.830 kali mengorbit Bumi dan 365 hari di angkasa luar. 

Rekor itu tidak akan pernah disamai oleh dua pesawat lain yang masih tersisa Endeavour dan Atlantis, yang tahun ini juga dijadwalkan melakukan misi terakhir.

Discovery menjalani sejumlah misi yang sangat berpengaruh bagi penelitian astronomi maupun dalam mencetak sejarah baru. Dialah pesawat yang membawa Teleskop Antariksa Hubbel pada 1990.

Lima tahun kemudian, Discovery membawa perempuan pilot pertama pesawat ulang-alik. Pesawat itu pada 1998 juga membawa John Glenn, astronot pertama Amerika yang mengelilingi Bumi di antariksa. 
  
Pada misi terakhir, Discovery mengantar pasokan logistik dan robot humanoid eksperimental bagi para astronot yang bertugas di Stasiun Luar Angkasa Internasional. Pemerintah AS berencana untuk menggantikan tugas pesawat ulang-alik dengan robot ke antariksa. Misi pesawat ulang-alik juga tidak akan lagi ditangani NASA melainkan akan diserahkan ke pihak swasta.
Discovery sendiri akan diabadikan di Museum Smithsonian Institute. (umi)
• VIVAnews

Sabtu, 29 Januari 2011

Galaksi Tertua Terekam Teleskop Hubble

Posted by Nisa Ulkhairia | Sabtu, 29 Januari 2011 | Category: | 0 komentar

Para ahli astronomi Eropa mengaku berhasil menemukan galaksi tertua melalui teleskop Hubble Space.



Galaksi yang berjarak sekitar 13,2 miliar tahun cahaya dari bumi itu mirip kondisi semesta alam saat baru lahir.

"Kami akhirnya bisa melihat awal dari semesta alam. Sungguh luar biasa," kata Olivia Johnson, astronom dari Royal Greenwich Observatory, kepada BBC News.

Selama ini galaksi tua sulit untuk dilihat. Sebab, alam semesta yang terus membengkak membuat mereka menjauhi bumi.

Menggunakan Hubble Wide Field Camera 3 terbaru, tim yang dipimpin oleh Rychard Bouwens dari Leiden Observatory di Belanda ini mampu mendeteksi cahaya yang terjadi saat alam semesta berusia 480 juta tahun.

Mereka mengaku ada kemungkinan itu bukan sebuah galaksi. Meski begitu, mereka 80 persen yakin itu adalah galaksi tertua yang pernah terlihat. Penemuan ini telah dipublikasikan dalam The Journal Nature.

Para astronom berharap data yang mereka peroleh dapat menambah pengetahuan mengenai bagaimana galaksi terbentuk.

Selain itu, data ini bisa digunakan untuk mengetahui apa yang terjadi dengan kabut hidrogen dan helium yang mengisi alam semesta miliaran tahun silam.

"Ini adalah masa ketika galaksi berkembang dengan cepat," kata mereka dalam artikel di jurnal tersebut, seperti yang dikutip The New York Times.
sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/sains/2011/01/28/brk,20110128-309472,id.html

Nama Empat Ahli Astronomi Indonesia Dijadikan Nama Asteroid

Posted by Nisa Ulkhairia | | Category: | 0 komentar

Empat nama mantan kepala Observatorium Bosscha, Bandung, Jawa Barat (Jabar), diabadikan menjadi simbol atau nama asteroid jenis Trojan. Nama keempatnya layak diabadikan karena kepedulian mereka terhadap bidang keilmuan (astronomi) yang mereka geluti selama bekerja di Observatorium Bosscha.

Kepala Observatorium Bosscha Hakim Malasan menjelaskan empat nama baru untuk empat asteroid jenis Trojan, yang berada tepat di tengah-tengah Planet Mars dan Jupiter, diberikan Internasional Astronomical Union (IAU) atau federasi astronomi tertinggi di dunia.

"Mereka kebetulan berdomisili di Bandung sekaligus mantan kepala Observatorium Bosscha, Bandung. Tiga di antara mereka masih aktif sebagai dosen Astronomi ITB," ujarnya, Jumat (14/1).

Keempat astronom itu adalah Bambang Hidayat, 76, mantan Kepala Bosscha

1968-1999, yang diabadikan untuk asteroid bernomor 12176, Moedji Raharto, mantan Kepala Bosscha 2000-2003, diabadikan untuk asteroid 12177, Dhani Herdiwijaya, mantan Kepala Bosscha 2004-2005 yang namanya disematkan pada asteroid 12177 dan Taufik Hidayat, mantan Kepala Bosscha 2006-2009, yang namanya diabadikan pada asteroid 12179.

"Ini adalah gelar pertama yang diperoleh warga negara kita," ungkap Hakim.

Asteroid-asteroid tersebut ditemukan peneropong langit asal Belanda yaitu CJ Van Houten dan I Van Houten-Groeneveld pada 16 Oktober 1977. "Saat ditemukan hingga November 2010, keempat asteroid itu belum memiliki nama," kata Hakim.

Empat asteroid yang kini berganti nama empat astronom asal Indonesia tersebut mempunyai diameter antara 1 hingga 1,5 kilometer.

"Kalau dari jarak matahari ke asteroid itu sekitar 500 juta kilometer. Empat asteroid itu berada di tengah-tengah planet Mars dan Jupiter," pungkas Hakim.
sumber : http://www.mediaindonesia.com/read/2011/01/14/195652/123/101/Nama-Empat-Ahli-Astronomi-Indonesia-Dijadikan-Nama-Asteroid

Minggu, 09 Januari 2011

Temukan Planet Ekstra Surya Tanpa Teleskop

Posted by Nisa Ulkhairia | Minggu, 09 Januari 2011 | Category: | 0 komentar

Astronom amatir berusia 45 tahun bernama Peter Jalowiczor berhasil mengejutkan dunia dengan penemuannya. Tak main-main, ia menemukan empat planet ekstra surya (di luar tata surya) tanpa bantuan teleskop sama sekali.
Empat planet yang ditemukannya adalah HD 31253b yang berjarak 172 tahun cahaya dari Bumi, HD218566b yang berjarak 98 tahun cahaya, HD177830c yang berjarak 190 tahun cahaya, dan HD99492c yang berjarak 58 tahun cahaya.
Jalowiczor menemukan keempat planet tersebut hanya dengan data astronomi Universitas Santa Cruz yang dipublikasikan tahun 2005. Mulai tahun 2007, Jalowiczor menganalisis data tersebut, membuat gambar dan grafik untuk mendeteksi planet.
Ia menggunakan teknik yang disebut Spektroskopi Doppler. "Saya melihat perubahan perilaku pada bintang yang hanya bisa disebabkan oleh planet. Sekali saya mendapatkannya, saya langsung mengirimkan data ke Santa Cruz," paparnya.
Ia memaparkan, "Jika ada planet yang mengorbit bintang, maka akan tampak goyangan kecil pada gerakan bintang itu. Goyangan tersebut menunjukkan keberadaan planet itu sendiri dalam sistem bintang."
Berkat temuannya, nama Jalowiczor bisa tertulis sebagai co-author dalam publikasi ilmiah tentang planet ini di Astrophysical Journal. Sementara pihak lain yang terlibat adalah tim peneliti dari Universitas California.
Jalowiczor yang juga anggota South Yorkshire's Mexborough and Swinton Astronomical Society sangat tersanjung dan terhormat ketika dicantumkan sebagai co-author. Ia berkata, "Semoga hasil kerja saya bisa memotivasi yang lain."
Berkaitan dengan penemuannya, Jalowiczor sendiri merasa terkejut. "Saya suka astronomi sejak kecil, tapi menjadi salah satu penemunya, oh... saya kehilangan kata-kata," ungkapnya.
Publikasi data astronomi oleh Universitas Santa Cruz sendiri memang punya tujuan tertentu. Para ahli berharap, data itu bisa memacu munculnya temuan dari astronom amatir. Adanya temuan oleh Jalowiczor menunjukkan bahwa tujuan tercapai.
 sumber:
http://sains.kompas.com/read/2011/01/04/11290280/Temukan.Planet.Ekstra.Surya.Tanpa.Teleskop-8

Hujan Meteor Sambut Tahun Baru 2011

Posted by Nisa Ulkhairia | | Category: | 0 komentar



Jakarta - Hujan meteor akan menyapa Bumi sesaat setelah malam pergantian tahun dari 2010 ke 2011. Pada 1 Januari 2011 dini hari merupakan awal hujan meteor Quadrantid. Karena masih awal, hanya beberapa meteor yang dihasilkan tiap jam. Namun pada puncaknya nanti, dalam sejam bisa terlihat maksimal 100 meteor lho!

"Pada dasarnya hujan meteor Quadrantid pada rentang 1 hingga 5 Januari sudah terjadi. Dini hari nanti karena masih awal hanya akan ada beberapa meteor per jam," ujar Profesor Riset Astronomi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (31/12/2010).

Perkiraan kasarnya, diharapkan ada 10 meteor per jam di awal turunnya hujan meteor ini. Nah, puncak dari fenomena ini adalah pada 3 Januari mendatang. Saat itu Anda bisa menyaksikan sekitar 100 meteor atau rata-rata 2 meteor per menit.

"Ini diduga asalnya dari debu komet baru bernomor katalog 1490 Y1 atau 1385 U1," ucap Djamaluddin.

Hujan meteor Quadrantid bisa dilihat di belahan langit utara, dari rasi bintang Bootes. "Bisa dibilang ini sebagai hujan meteor awal tahun," tambahnya.

Hujan meteor Quadrantid cukup populer lantaran produksi meteornya yang cukup banyak. Saat terjadi, meteor terpancar ke berbagai arah laksana kembang api. Produksi meteor yang banyak dikarenakan sebaran debu komet terkonsentrasi pada sabuk atau jalur debu yang relatif sempit. Sabuk ini dilintasi buni dalam waktu 5 hari. Ketika memasuki pusat sabuk komet maka akan menyebabkan produksi meteor maksimal.

"Mungkin nanti setelah tengah malam, bisa saja dilihat meteornya. Tapi bagi yang awam tidak akan mengetahui apakah meteor itu dari hujan meteor Quadrantid atau meteor sporadis," tutur pria berkacamata ini.

Pada dini hari nanti bulan belum terbit sehingga langit menjadi gelap. Kondisi ini sebenarnya menguntungkan lantaran tidak ada gangguan cahaya bulan sehingga hujan meteor relatif mudah terlihat.

"Kembang api sudah relatif berkurang juga, hanya saja bisa terganggu cahaya lampu dan bisa juga ada gangguan awan. Tapi dari pola awannya, sepertinya pada dini hari nanti agak cerah," tutur alumnus Universitas Kyoto, Jepang, ini.

Di Januari 2011, akan terjadi 6 hujan meteor lainnya. Salah satunya adalah hujan meteor Delta Cancrids. Saat terjadi, meteor seolah-olah muncul dari rasi bintang Cancer. Jumlahnya hanya beberapa meteor per jam. Dari segi popularitas termasuk hujan meteor sedang.

"Kebanyakan hujan meteornya lemah sehingga bagi orang-oarang yang non astronomi tidak mengenal," lanjut Djamaluddin.

Tidak saja di bulan Januari yang terjadi 7 kali hujan meteor, namun di bulan Agustus dan Juli juga ada hujan meteor dengan intensitas yang sama. Sedangkan pada November terjadi 6 kali hujan meteor. Hujan meteor terbanyak terjadi pada bulan Juni yakni 8 kali.

sumber: http://www.detiknews.com/read/2010/12/31/130221/1536660/10/hujan-meteor-sambut-tahun-baru-2011?n991103605

Rabu, 05 Januari 2011

Gadis Kanada Menjadi Penemu Supernova Termuda

Posted by Nisa Ulkhairia | Rabu, 05 Januari 2011 | Category: | 0 komentar

Montreal (ANTARA News) - Seorang gadis asal Kanada berumur 10 tahun menjadi penemu termuda sebuah supernova atau bintang yang meledak, demikian menurut Asosiasi Astronomi Royal Kanada (RASC).

Gadis bermata tajam bernama Kathryn Aurora Gray yang berasal dari Fredericton di provinsi timur New Brunswick telah menemukan sesuatu yang langka pada Ahad sewaktu dia menyisir puluhan hasil pencitraan konstelasi bintang secara teleskopik di galaksi yang sangat jauh.

"RASC dengan bahagia mengumumkan penemuan sebuah supernova oleh seorang ahli astronomi amatir berumur sepuluh tahun sehingga menjadi yang termuda yang dapat menemukan supernova," kata asosiasi itu dalam pernyataannya.

Sewaktu mengamati supernova 2010lt di rasi bintang Camelopardalis di galaksi yang berjarak 240 tahun cahaya dari bumi, Gray segera memberitahu ayahnya yang merupakan ahli astronomi amatir yang bernama Paul.

Penemuan itu kemudian dibuktikan oleh dua ahli astronomi Amerika Serikat sebelum dilaporkan kepada Badan Pusat Gabungan Astronomi Internasional bagi Telegram Astronomi.

Supernova merupakan bintang raksasa yang kehabisan bahan bakar dan hancur akibat beban dari gravitasinya sendiri dan menjadi objek yang sangat padat yang dikenal sebagai bintang neutron.

Kemudian mereka mengeluarkan gelombang kejut yang meledakkan bintang tersebut dan menghasilkan lingkaran radiasi yang bergetar.

Kejadian luar biasa itu merupakan fenomena yang sangat menakjubkan bagi para ahli perbintangan dan dapat diketahui ketika ledakan bertenaga besar menciptakan cahaya yang dramatis yang pada akhirnya memudar.

sumber:
http://antaranews.com/berita/1294176363/gadis-kanada-menjadi-penemu-supernova-termuda

Rabu, 01 Desember 2010

Asian-Pacific Astronomy Olympiad ------ Indonesia Tuan Rumah Olimpiade Astronomi

Posted by Nisa Ulkhairia | Rabu, 01 Desember 2010 | Category: | 3 komentar

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan VI Asian-Pacific Astronomy Olympiad (APAO) 2010. Kabupaten Tolikara, Papua, mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah APAO dengan menggandeng Surya Institute sebagai partner.
APAO akan diselenggarakan tanggal 24 November sampai 5 Desember 2010. Lomba ini akan diikuti oleh 8 tim dari 8 negara di Asia dan Oceania yaitu Indonesia, Rusia, Korea Selatan, Kazakhstan, China, Bangladesh, Nepal, dan Kyrgyztan.


"Saya sangat senang olimpiade bisa diselenggarakan di Tolikara, pemerintah di sana juga memiliki komitmen untuk penyelenggaraan, jadi saya tambah semangat lagi," ujar Yohanes Surya, Pendiri Surya Institute, Kamis (11/11/2010), di Jakarta.
Adapun peserta olimpiade ini akan dibagi dalam dua kategori, yaitu Junior (Secondary School) dan Senior (High School). Karena menjadi tuan rumah, Indonesia berhak untuk mengirimkan dua tim.
"Yaitu tim nasional yang terdiri dari 7 orang dan tim Tolikari terdiri dari 8 orang," ujar Ichsan Ibrahim, Pembina Pelatihan Tim APAO Indonesia.
Ia memaparkan, pelatihan bagi kedua tim dilakukan sejak 9 Februari hingga 21 November 2010. Tim dipersiapkan untuk membawa medali dan meneruskan tradisi Indonesia memboyong 2 emas dan 2 perunggu di APAO 2009.
"Kemampuan observasi dilatih dengan menggunakan teleskop, tiap bulan selama dua kali akan berlatih di Boska. Untuk tahap akhir tim akan melakukan pelatihan di Planetarium," lanjut Ichsan.
Gunawan Admiranto, Ketua Tim Juri APAO 2010 mengatakan, ada tiga ronde dalam penilaian olimpiade ini, yaitu teori berupa naskah soal, observasi dan pengamatan langsung menggunakan teropong, serta pengolahan data.
"Juga ada proses atau langkah-langkah pencapaian yang diinginkan, bagaimana pengolahan data dan bagaimana menjadi peneliti astronomi serta langkah-langkah menjadi astronot," tandas Gunawan.
Adapun penyelenggaraan APAO 2010 diharapkan mampu mempromosikan pendidikan astronomi di negara-negara Asia, Oseania, serta Pasifik pada umumnya. Kegiatan ini juga diharapkan bisa menekankan pentingnya pendidikan sains. Kegiatan tersebut terselenggara atas dukungan sepenuhnya dari Pemerintah Daerah Kabupaten Tolikari, Kementrian Pendidikan Nasional, Surya Institute, Departemen Luar Negeri, Ganesha Astromedia ITB, para dosen dan asisten dari Program Studi Astronomi ITB.