Rabu, 01 Desember 2010

Asian-Pacific Astronomy Olympiad ------ Indonesia Tuan Rumah Olimpiade Astronomi

Posted by Nisa Ulkhairia | Rabu, 01 Desember 2010 | Category: | 3 komentar

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan VI Asian-Pacific Astronomy Olympiad (APAO) 2010. Kabupaten Tolikara, Papua, mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah APAO dengan menggandeng Surya Institute sebagai partner.
APAO akan diselenggarakan tanggal 24 November sampai 5 Desember 2010. Lomba ini akan diikuti oleh 8 tim dari 8 negara di Asia dan Oceania yaitu Indonesia, Rusia, Korea Selatan, Kazakhstan, China, Bangladesh, Nepal, dan Kyrgyztan.


"Saya sangat senang olimpiade bisa diselenggarakan di Tolikara, pemerintah di sana juga memiliki komitmen untuk penyelenggaraan, jadi saya tambah semangat lagi," ujar Yohanes Surya, Pendiri Surya Institute, Kamis (11/11/2010), di Jakarta.
Adapun peserta olimpiade ini akan dibagi dalam dua kategori, yaitu Junior (Secondary School) dan Senior (High School). Karena menjadi tuan rumah, Indonesia berhak untuk mengirimkan dua tim.
"Yaitu tim nasional yang terdiri dari 7 orang dan tim Tolikari terdiri dari 8 orang," ujar Ichsan Ibrahim, Pembina Pelatihan Tim APAO Indonesia.
Ia memaparkan, pelatihan bagi kedua tim dilakukan sejak 9 Februari hingga 21 November 2010. Tim dipersiapkan untuk membawa medali dan meneruskan tradisi Indonesia memboyong 2 emas dan 2 perunggu di APAO 2009.
"Kemampuan observasi dilatih dengan menggunakan teleskop, tiap bulan selama dua kali akan berlatih di Boska. Untuk tahap akhir tim akan melakukan pelatihan di Planetarium," lanjut Ichsan.
Gunawan Admiranto, Ketua Tim Juri APAO 2010 mengatakan, ada tiga ronde dalam penilaian olimpiade ini, yaitu teori berupa naskah soal, observasi dan pengamatan langsung menggunakan teropong, serta pengolahan data.
"Juga ada proses atau langkah-langkah pencapaian yang diinginkan, bagaimana pengolahan data dan bagaimana menjadi peneliti astronomi serta langkah-langkah menjadi astronot," tandas Gunawan.
Adapun penyelenggaraan APAO 2010 diharapkan mampu mempromosikan pendidikan astronomi di negara-negara Asia, Oseania, serta Pasifik pada umumnya. Kegiatan ini juga diharapkan bisa menekankan pentingnya pendidikan sains. Kegiatan tersebut terselenggara atas dukungan sepenuhnya dari Pemerintah Daerah Kabupaten Tolikari, Kementrian Pendidikan Nasional, Surya Institute, Departemen Luar Negeri, Ganesha Astromedia ITB, para dosen dan asisten dari Program Studi Astronomi ITB.

Selain Banyak yang Berjilbab, Asian Games kali Ini Juga Bertabur Atlet Kembar

Posted by Nisa Ulkhairia | | Category: | 3 komentar


REPUBLIKA.CO.ID, GHUANGZHOU--Republika Online pekan ini menuliskan banyaknya atlet berjilbab yang turut meramaikan beberapa cabang olahraga di area Asia Games 2010. Selain itu, pesta olahraga se-Asia ini juga bertabur atlet kembar.

Pelatih bola basket Jepang, Thomas Wisman, menjadi "korban" dalam hal ini. Ia  mengalami masalah karena susah membedakan pemain kembar Joji dan Kosuke Takeuchi.  "Saya selalu mengamati siapa memakai sepatu yang mana dan saya tanamkan dalam pikiran saya siapa-siapa mereka ketika sedang bertanding," kata Wisman tentang dilema yang dihadapinya.
Namun ada keunikan keduanya dibanding yang lain. "Mereka pemain tertinggi dalam tim dan saya suka menurunkan mereka bersama," kata Wisman tentang putera Takeuchi yang dikenal dengan julukan Menara Kembar (Twin Towers).

Tetapi pelatih hoki Hong Kong Sarjit Singh menyatakan menyukai masalah atlet mirip itu. Dalam tim hoki putera Hong Kong masalahnya lebih mengesankan, karena kapten tim Ali Akbar yang tampil di Guangzhou disertai keluarnya, Ashgar, Asif dan Arif. "Kami semua bermain hoki karena banyak keluarga dan teman yang menyukai cabang olahraga ini," kata Akbar.

Pelatih Sarjit menambahkan, "Rasanya amat hebat memiliki empat anggota keluar dalam satu tim. Mereka sudah lama bermain dan amat menolong keutuhan penampilan tim. "Salah satu taktik kami adalah Akbar Ali sebagai pemukul pojok, disambut Ashgar Ali dan meneruskannya kepada Arif Ali sebagai tukang pencetak gol," katanya.

Ada beberapa saudara kandung yang tampil dalam persaingan cabang berkuda, salah satunya dari keluarga kerajaan. Uni Emirat Arab menurunkan Sheikha Latifa Al Maktoum dari keluarga raja Dubai yang meraih medali perak dalam nomor "jumping" perorangan, yang bersaing dengan saudra mudanya Sheikh Rashid.

Kakak adiknya itu sebelumnya meraih medali perak setelah Arab Saudi di nomor yang sama untuk kategori tim. Sheikha Latiga yang berusia 25 tahun, peraih medali perunggu dalam Asian Games Doha 2006, mengatakan ia memiliki kuda "tak terhitung banyaknya", yang dibelinya dan adiknya di berbagai belahan dunia.

"Dimana pun ada kuda bagus, kami lalu bergegas dan membelinya," kata Sheikh Rashid yang berusia 19 tahun. Seperti halnya keluarga Al Maktoums, ada juga keluarga lain yang bertanding di lapangan berkuda Conghua.

Taiwan menurunkan atlet puteri saudara kembar Chen Shao-man dan Chen Shao-chiao. Chen Shao-man, yang lebih muda lima menit, meraih medali perak dalam nomor perorangan pada event 2006. Mereka berlatih di Jerman hampir setahun dan sekolah di Amerika Serikat dan London. "Kami mengendarai kuda karena hobi dan itu merupakan bagian dari hidup kami," kata Chen Shao-man.
REPUBLIKA.CO.ID, GHUANGZHOU--Republika Online pekan ini menuliskan banyaknya atlet berjilbab yang turut meramaikan beberapa cabang olahraga di area Asia Games 2010. Selain itu, pesta olahraga se-Asia ini juga bertabur atlet kembar.

Pelatih bola basket Jepang, Thomas Wisman, menjadi "korban" dalam hal ini. Ia  mengalami masalah karena susah membedakan pemain kembar Joji dan Kosuke Takeuchi.  "Saya selalu mengamati siapa memakai sepatu yang mana dan saya tanamkan dalam pikiran saya siapa-siapa mereka ketika sedang bertanding," kata Wisman tentang dilema yang dihadapinya.
Namun ada keunikan keduanya dibanding yang lain. "Mereka pemain tertinggi dalam tim dan saya suka menurunkan mereka bersama," kata Wisman tentang putera Takeuchi yang dikenal dengan julukan Menara Kembar (Twin Towers).

Tetapi pelatih hoki Hong Kong Sarjit Singh menyatakan menyukai masalah atlet mirip itu. Dalam tim hoki putera Hong Kong masalahnya lebih mengesankan, karena kapten tim Ali Akbar yang tampil di Guangzhou disertai keluarnya, Ashgar, Asif dan Arif. "Kami semua bermain hoki karena banyak keluarga dan teman yang menyukai cabang olahraga ini," kata Akbar.

Pelatih Sarjit menambahkan, "Rasanya amat hebat memiliki empat anggota keluar dalam satu tim. Mereka sudah lama bermain dan amat menolong keutuhan penampilan tim. "Salah satu taktik kami adalah Akbar Ali sebagai pemukul pojok, disambut Ashgar Ali dan meneruskannya kepada Arif Ali sebagai tukang pencetak gol," katanya.

Ada beberapa saudara kandung yang tampil dalam persaingan cabang berkuda, salah satunya dari keluarga kerajaan. Uni Emirat Arab menurunkan Sheikha Latifa Al Maktoum dari keluarga raja Dubai yang meraih medali perak dalam nomor "jumping" perorangan, yang bersaing dengan saudra mudanya Sheikh Rashid.

Kakak adiknya itu sebelumnya meraih medali perak setelah Arab Saudi di nomor yang sama untuk kategori tim. Sheikha Latiga yang berusia 25 tahun, peraih medali perunggu dalam Asian Games Doha 2006, mengatakan ia memiliki kuda "tak terhitung banyaknya", yang dibelinya dan adiknya di berbagai belahan dunia.

"Dimana pun ada kuda bagus, kami lalu bergegas dan membelinya," kata Sheikh Rashid yang berusia 19 tahun. Seperti halnya keluarga Al Maktoums, ada juga keluarga lain yang bertanding di lapangan berkuda Conghua.

Taiwan menurunkan atlet puteri saudara kembar Chen Shao-man dan Chen Shao-chiao. Chen Shao-man, yang lebih muda lima menit, meraih medali perak dalam nomor perorangan pada event 2006. Mereka berlatih di Jerman hampir setahun dan sekolah di Amerika Serikat dan London. "Kami mengendarai kuda karena hobi dan itu merupakan bagian dari hidup kami," kata Chen Shao-man.