Selasa, 23 November 2010
This is Just for Fun.............!!!!!!!!!!!
Rabu, 17 November 2010
Para Ahli Astronomi Temukan Lubang Hitam Baru
Pengamatan yang dilakukan melalui sinar infra mengatakan supernova yang dijuluki SN 1979C merupakan lubang hitam yang sedang terbentuk, ujar sebuah regu ahli astronomi yang berasal dari Amerika Serikat dan Eropa.
"Jika perkiraan kami benar, itu merupakan contoh terdekat bagi pengamatan penciptaan sebuah lubang hitam," ujar seorang ahli Astrofisika dari Harvard-Smithsonian Center di Massachusetts, Daniel Patnaude, yang memimpin penelitian itu.
Seorang ahli astronomi amatir dari Maryland, Gus Johnson, menemukan supernova pada 1979 di tepi sebuah galaksi yang bernama M100, kemudian para ahli astronomi lain meneliti hal tersebut setelah penemuannya. Cahaya dan sinar infra dari pecahan telah memakan waktu selama 50 juta tahun untuk menuju ke bumi dengan kecepatan cahaya sebesar 300.000 kilometer per-detik atau sekitar 10 triliun kilometer per-tahunnya.
Pusat Pengamatan Sinar Infra Chandra milik NASA, Badan Antariksa Eropa XMM-Newton, dan Pusat Pengamatan Rosat milik Jerman telah menyaksikan bahwa itu memancarkan sumber sinar infra stabil yang terang.
Analisis sinar infra mendukung ide bahwa benda yang diamati merupakan lubang hitam dan itu juga akan menarik masuk benda yang jatuh dari sebuah supernova atau mungkin dari bintang kembar, ujar para ahli astronomi.
Para ilmuwan percaya bahwa lubang hitam dapat tercipta melalui beberapa cara yang dalam hal ini karena sebuah bintang yang berukuran sekitar 20 kali massa dari Matahari yang akan menjadi supernova dan kemudian meledak menjadi beberapa benda yang padat yang menghisap benda-benda di sekitarnya kedalam inti lubang hitam itu.
Minggu, 14 November 2010
Bintang dikenal sebagai objek langit yang tampak di malam hari. Sebuah cahaya titik yang berkerlap-kerlip, dan terkadang bila diperhatikan dengan seksama, warnanya berubah-ubah dari putih ke biru atau merah dan sebaliknya. Sebenarnya bintang merupakan bola gas yang terbentuk karena gaya gravitasinya sendiri. Cahaya bintang berasal dari hasil reaksi fusi nuklir di mana hidrogen digabungkan untuk menghasilkan helium, gelombang eletromagnetik, dan energi. Bintang memancarkan energinya relatif konstan/stabil setiap saat. Jadi, perubahan yang terjadi tidak berasal dari bintang itu sendiri. Lalu, bagaimana bintang bisa tampak berkedip?
Penyebab utamanya adalah karena bumi memiliki atmosfer dengan temperatur yang berbeda-beda, menyebabkan lapisan-lapisan udara tersebut bergerak-gerak sehingga menimbulkan turbulensi. Turbulensi ini bentuknya sama seperti ombak atau gelombang di laut dan kolam renang.
Analogi sebuah koin yang terletak diam di dasar kolam renang akan tampak bergerak-gerak jika kita lihat dari atas permukaan air. Gerak semu ini terjadi karena adanya refraksi/pembiasan. Hal yang sama terjadi pada cahaya bintang yang melewati atmosfer bumi. Ketika memasuki atmosfer bumi, cahaya bintang akan dibelokkan oleh lapisan udara yang bergerak-gerak. Akibatnya posisi bintang akan berpindah-pindah. Tetapi karena perubahan posisinya sangat kecil untuk dideteksi mata, maka kita akan melihatnya sebagai kedipan.
Pada zaman dahulu, orang mengira semua objek di langit adalah bintang. Hingga mereka mulai mengamati dan menyadari bahwa ada beberapa objek langit yang memiliki perpindahan berbeda dengan yang lain, juga tidak berkedip. Dan diketahuilah bahwa benda tersebut planet, bukan bintang.
Benda bercahaya yang selalu tampak tidak berubah posisinya itu, oleh orang zaman dahulu dibentuk menjadi gambar-gambar visual khayalan yang kini dinamakan rasi bintang. Mereka mengkait-kaitkan bentuk rasi bintang dengan mitos-mitos dan kepercayaan yang dianut. Begitu banyak rasi bintang yang terbentuk dengan pandangan berbeda-beda tiap orang. Hingga akhirnya astronom menetapkan standar wilayah rasi bintang yang kini berjumlah 88 buah. Nama-nama rasi bintang sendiri kebanyakan diambil dari sejarah bangsa Romawi dan Yunani.
Bintang yang dapat dilihat oleh mata telanjang berjumlah kurang lebih 2860 bintang. Hingga pada massa Galilleo menemukan teleskop, ia mengarahkan teleskopnya ke pusat galaksi Bimasakti. Dari hasil pengamatan, didapat hasil bahwa ternyata terdapat lebih banyak bintang lagi di langit yang tak kasat mata. Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan instrumentasi astronomi, diketahui bahwa bintang yang ada di langit tidak seluruhnya benar-benar bintang, melainkan terbagi-bagi lagi menjadi beberapa kategori. Ada nebula, awan gas debu yang merupakan cikal bakal bintang. Cluster, yang merupakan sekumpulan bintang. Bintang itu sendiri, yang terbagi menjadi dua kategori yaitu bintang tunggal dan multiple stars, dan Planetary nebula.
Evolusi Bintang
Bintang tidak berbeda jauh dengan manusia atau makhluk hidup yang ada di Bumi. Bintang dilahirkan, berkembang, dan pada akhirnya padam, tidak bersinar lagi. Bedanya, tentu saja bintang tidak berkembang biak. Nah, proses evolusi bintang ini, bila dibandingkan dengan usia manusia atau bahkan usia seluruh peradaban manusia, tentunya memakan waktu yang sangat lama hingga milyaran tahun. Contohnya Matahari dalam tata surya kita, yang tidak tampak berubah sejak zaman nenek moyang hingga saat ini.
Lalu bagaimana para astronom bisa mempelajari evolusi bintang, jika usia mereka tidak cukup untuk melihat perkembangan bintang yang sangat lama itu? Seorang anak kecil, tidak perlu menunggu hingga usianya 80 tahun hingga ia bisa melihat pertumbuhan seorang manusia. Ia bisa melihat dari sekitarnya, bagaimana ‘rupa’ seorang remaja, dewasa, atau bahkan nenek dan kakek sekalipun. Begitu pula dengan astronom, mereka dapat meneliti bintang-bintang di langit sana terdiri dari berbagai macam usia dan tahap evolusi.
Materi Antar Bintang
Berdasarkan hasil pengamatan, luar angkasa diantara bintang-bintang ternyata tidak benar-benar kosong, namun terdapat materi berupa gas dan debu yang disebut materi antar bintang. Di beberapa tempat materi antar bintang dapat dilihat sebagai awan antar bintang yang disebut Nebula, contohnya Nebula Orion. Kerapatan awan bintang sangatlah kecil bila dibandingkan dengan udara di sekeliling kita. Walaupun demikian, awan bintang memiliki volume yang sangat besar, sehingga cukup banyak untuk membentuk ribuan bintang.
Lalu bagaimana awan antar bintang (Nebula) itu bisa membentuk bintang? Gaya gravitasi memegang peranan sangat penting dalam proses pembentukan bintang. Jika terjadi suatu peristiwa hebat, misalnya ledakan bintang, di suatu tempat sekelompok materi antar bintang akan menjadi lebih mampat daripada sekitarnya. Bagian luar awan ini akan tertarik oleh gaya gravitasi materi di bagian dalam. Akibatnya, awan akan mengerut dan semakin mampat. Peristiwa ini disebut kondensasi.
Tetapi, tidak semua awan yang berkondensasi itu akan menjadi bintang. Akibat kondensasi tekanan di dalam awan akan meningkat dan akan melawan pengerutan. Bila tekanan melebihi gaya gravitasi, awan akan tercerai kembali dan proses terbentuknya bintang tidak akan terjadi.
Pada setiap kondensasi kerapatan gas dalam awan bertambah besar. Riwayat gumpalan awan induk akan terjadi lagi di dalam gumpalan awan yang lebih kecil. Demikian seterusnya. Peristiwa ini disebut fragmentasi. Awan yang tadinya satu terpecah menjadi ratusan bahkan ribuan awan yang mengalami pengerutan gravitasi. Pada akhirnya, suhu menjadi cukup tinggi sehingga awan-awan tersebut akan memijar dan menjadi ‘embrio’ bintang yang disebut protostar. Jadi, bintang tidak terbentuk sendiri-sendiri namun berasal dari suatu kondensasi besar, bintang terbentuk dalam kelompok. Hal ini didukung oleh pengamatan. Dalam galaksi kita pun terdapat banyak gugus bintang.
Protostar
Suatu protostar yang telah mengakhiri proses fragmentasinya akan terus mengerut akibat gravitasinya sendiri. Materi dalam protostar sebagian besar adalah hidrogen dengan kerapatan seragam pada awalnya. Evolusi protostar ditandai dengan keruntuhan yang sangat cepat.
Laju evolusi pada tahap ini, temperatur di pusat bintang cukup tinggi untuk berlangsungnya pembakaran hidrogen. Pada saat itu tekanan di dalam bintang menjadi besar dan pengerutan pun berhenti. Ia menjadi bintang di deret utama. Namun bila massa bintang terlalu kecil, suhu di pusat bintang tidak akan cukup tinggi untuk berlangsungnya reaksi pembakaran hidrogen. Bintang akhirnya mendingin dan menjadi bintang katai gelap tanpa adanya reaksi ini yang berarti.
Evolusi Lanjut
Selanjutnya bintang mencapai deret utama berumur nol (zero age main-sequence, ZAMS). Komposisi bintang tersebut masih homogen, mencerminkan komposisi awan antar bintang yang membentuknya. Energi yang dipancarkan bintang terutama berasal dari reaksi inti yang berlangsung di pusat bintang. Yaitu reaksi fusi yang merubah hidrogen menjadi helium, dengan perlahan terjadi perubahan komposisi di pusat bintang, hidrogen berkurang dan helium bertambah. Akibatnya struktur bintang pun berubah, bintang makin terang, jari-jari bertambah besar, tempertur efektif berkurang.
Ada perbedaan proses evolusi bintang tergantung dari massa bintang tersebut. Pada bintang bermassa besar, terjadi reaksi daur karbon yang terkonsentrasi ke pusat, disebut pusat konveksi. Pada bintang tipe ini, di bagian selubungnya tidak terjadi reaksi inti. Karena itu, komposisi selubung masih sama dengan komposisi awal. Lain halnya dengan bintang bermassa rendah yang membangkitkan energinya tidak terkonsentrasi di pusat. Konveksi justru terjadi di selubung.
Akibat reaksi pembakaran hidrogen, jumlah helium di pusat bintang bertambah. Timbunan helium di pusat bintang itu mengakibatkan terjadinya pengerutan gravitasi secara perlahan. Bila massa pusat helium ini mencapai 10 % hingga 20% massa bintang, pusat helium tidak lagi mengerut dengan perlahan namun runtuh dengan cepat. Saat itu struktur bintang berubah, bagian luar bintang akan memuai dengan cepat, bintang berubah menjado bintang raksasa merah. Saat itu, bintang mempunyai 2 sumber energi yaitu pembakaran hidrogen di kulit yang melingkupi pusat helium, dan pembakaran helium di pusat bintang.
Evolusi tahap akhir suatu bintang masih belum pasti. Namun dari beberapa perhitungan didapat bahwa unsur kimia yang lebih berat dari karbon terbentuk di pusat bintang. Inti helium, berubah menjadi karbon, selanjutnya membentuk oksigen. Hal ini menyebabkan temperatur pusat meningkat, dan saat mencapai 600 derajat, inti karbon akan berinteraksi membentuk magnesium, neon, dan natrium. Demikian seterusnya akan terjadi pembakaran unsur kimia dalam bintang. Hingga akhirnya akan terbentuk inti besi. Besi merupakan inti yang paling mantap dan tidak akan bereaksi membentuk inti yang lebih berat. Selanjutnya, akan terjadi keruntuhan gravitasi pusat besi yang menyebabkan Supernova.
Supernova
Tidak semua bintang mengakhiri hidupnya dengan meledak menjadi Supernova, yaitu hanya terjadi pada bintang yang massanya 8 kali massa matahari atau lebih massif dari Matahari. Nah, supernova akan terjadi ketika bintang tersebut tidak lagi memiliki cukup bahan bakar untuk proses fusi di inti bintang. Menciptakan tekanan keluar sehingga memicu terjadinya dorongan gravitasi kedalam massa bintang yang besar.
Saat ledakan terjadi, bintang akan melepaskan sejumlah besar energi dan memuntahkan elemen berat seperti kalisum dan besi ke ruang antar bintang. Materi yang dilepaskan ini kemudian menjadi benih yang mengisi awan debu dan gas dimana bintang dan planet baru akan dilahirkan. Dan siklus terbentuknya bintang dimulai dari awal.
Sisa Kematian Bintang
Materi yang dilepaskan bintang pada saat terjadinya Supernova akan menjadi benih bintang baru. Lalu bagaimana nasib bintang yang mati? Untuk bintang bermassa sedang, ia akan berubah menjadi bintang katai putih. Untuk bintang bermassa besar yang setelah meledak massanya 1.4 – 3 kali massa Matahari akan berubah menjadi bintang neutron. Sedangkan yang lebih besar dari 3 kali massa Matahari akan berubah menjadi black hole.
Setiap bulan, mulai Oktober hingga Desember mendatang, bersiaplah menyaksikan lontaran bintang jatuh. Tiga hujan besar meteor akan turun dan bisa disaksikan mulai tengah malam dengan mata telanjang.
Pada bulan ini, hujan meteor Orionid akan mencapai puncaknya pada 21 Oktober. Lontaran bintang jatuh dari rasi bintang Orion tersebut mencapai 20-40 kali setiap jam. “Waktu terbaik melihatnya jika cuaca cerah selepas tengah malam hingga subuh,” kata peneliti senior Astronomi dan Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, Selasa (19/10/2010).
Saat tengah malam, rasi bintang Orion tepat berada di atas kepala dan bergerak ke arah barat menjelang pagi. “Tapi melihatnya tetap harus tengadah karena posisinya masih tinggi,” ujarnya.
Hujan meteor Orionid berasal dari sisa debu komet Halley yang masuk ketika bumi melintasinya. Selain langit mendung atau hujan, halangan untuk menyaksikan hujan meteor Leonid adalah cahaya bulan yang mulai memasuki fase purnama pada 23 Oktober.
Tapi jangan khawatir, peristiwa alam serupa berikutnya bakal berlanjut. Pada bulan November, giliran hujan meteor Leonid yang akan turun hingga belasan kali per jam saat masa puncak pada 17-18 November. Waktu terbaik melihatnya juga selepas tengah malam, sama seperti hujan meteor Orionid.
Menurut Djamaluddin, meteor Leonid berasal dari debu komet Temple-Tuttle. Pada kurun 1998 hingga 2002, jatuhnya meteor itu tidak lagi disebut hujan melainkan badai karena debu antariksanya sangat banyak yang terlepas dan jatuh ke bumi. “Tapi sekarang sudah makin berkurang,” ujarnya.
Pada akhir tahun nanti, curah hujan meteor bakal semakin deras. Hujan meteor Geminid, kata Djamaluddin, akan turun hingga 100 kali per jam pada masa puncak yang berlangsung pada 12-13 Desember. Meteor tersebut berasal dari debu antariksa yang dibawa bekas meteor. “Sekarang jadi asteroid Phaton,” ujarnya.
Ketiga hujan meteor yang rutin terjadi setiap tahun tersebut tidak membahayakan bumi. Ukuran meteor yang masuk, kata dia, sangat kecil sehingga mudah dan cepat habis terbakar atmosfir. “Kecuali jika ada meteor sporadis yang jatuh di luar hujan meteor itu,” katanya.
Jumat, 12 November 2010
The Youth Pledge (indonesia: Sumpah Pemuda), was a declaration made on 28 October 1928 by young Indonesian nationalists at a conference in the then-Dutch East indies They proclaimed three ideals, one motherland, one nation and one languageBackground
The first Indonesian youth congress was held in Batavia, capital of the then Dutch East indiesin 1926, but produced no formal decisions but did promote the idea of a united Indonesia. In October 1928, the second Indonesian youth congress was held at three different locations. In the first session, the hope was expressed that the congress would inspire the feeling of unity. The second session saw discussions about educational issues. In the third and final session, held at Jalan Kramat Raya No, 126, on October 28 participants heard the future Indonesian national anthem Indonesia Raya by Wage Rudolf Sutpratman. The congress closed with a reading of the youth pledge
The pledge :
In Indonesian, with the original spelling, the pledge reads:Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia.
Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
In English:
Firstly
We the sons and daughters of Indonesia, acknowledge one motherland, Indonesia.
Secondly
We the sons and daughters of Indonesia, acknowledge one nation, the nation of Indonesia.
Thirdly
We the sons and daughters of Indonesia, respect the language of unity, Indonesian.
As a youth, and as an Indonesian, one could not help but to question whether any development has occur within the youth’s movement in the past 82 years. In evaluating this situation, we shall first analyze the challenges faced by each youth movement. This analysis is needed because the characteristic of a youth’s movement is largely intertwined with the challenges faced by such movement. Hence a comparative analysis on the characterization of the youth’s movement and its challenges before and after 1928 has to be employed.
Youth’s movement before the year of 1928 faces the challenge of colonialism and the repression of any freedom, particularly for any freedom of expression and right to education. This challenge is not only faced by Indonesian youth movement, but almost any other movement in any colonized territory. Specifically in Indonesia, the youth movement is characterized with segregation. This character is due to nature of multicultural Indonesia which is comprised more than 300 ethic groups and 200 different languages that stretch across 1,919,440 km². Along with this nature is the divide et impera’s politic employed by the Dutch colonialism.
The second character of youth’s movement pre-1928 is how it was led by intellectuals that reside in foreign countries. This character is mostly caused by the nature of education provided by the Dutch colony in Indonesia by that time. Education in Indonesia was only limited to an exclusive class of society, and focused on professional training rather than on higher graduate education. This tendency occurs because the Dutch colony’s need to have employees in the bureaucracy and equality of the Dutch children residing in Indonesia while trying to prevent any movement for independence on Indonesia’s part.
The youth’s movement after 1928, particularly after Indonesia’s independence, faces challenges that are different from the challenges faced by the youth movement before 1928. The challenges faced by nowadays youth movement are the fight for democracy and human right, global economy, free trade, and Indonesia’s position within the world’s economic and political realm.
Although the different challenges being faced by nowadays youth movement, there are similar traits from which we may take lessons from. The nature of these challenges are actually same, in spite of its’ different outlook. There still exist, however, a tension between the developed and developing countries, and many views free trade as consequence of globalization is a tool of neo-colonization. Therefore, despite the different outlook that nowadays challenges presents, we are still facing the same demon: colonization.
Moreover, if we compared the second character of youth movement, the number of intellectuals that reside in foreign countries is not too much difference either. The number of intellectuals residing in foreign countries is still and even higher than pre-1928. For instance, there are around 20.000 Indonesian youth intellectuals in Australia, 26.000 in Malaysia, 5000 in Egypt and more than hundred thousands spread in United State, Europe, India, Japan and others.
Based upon this comparison, there are certain actions that could be taken by the present youth movement, particularly for the youth living and/or residing in foreign countries, to handle the national and international challenges.
First, in fighting against the challenges by the outside world, Indonesia would first need strength. Indonesia’s strength would only be derived from Indonesia’s unity. In this context the internal structure within Indonesia has to be strengthened for escalating Indonesia’s reputation worldwide. The sense of nationalism and our national character need to be encouraged and grown. And not less important that in order to balance individual necessity to provide for basic needs while balancing our civic duty to uphold the nations’ and collective needs, each of us should advocate for a better Indonesia by upholding the political, moral and economical standard for ourselves.
Second, intellectuals residing in foreign countries can have much more access to sources that are not available in Indonesia. Thus, we must always remember to transfer the knowledge, information and technology gained by all means, such as writing in mass media, mentoring, giving lectures, conducting seminars or workshop for people who reside in Indonesia. This is similar to what was done by the intellectuals residing in the Netherlands that established the “Pendidikan Nasional Indonesia” (Indonesian National Education) which aims to share the education and knowledge gained with fellow Indonesians.
Third, the fact that we are all Indonesians means that we all represent Indonesia either we are residing in Indonesia or abroad. By being outside of Indonesia, one is held up to a higher standard than the one being held in Indonesia, because one then becomes an unofficial ambassador of Indonesia in every aspect. We reflected on Bung Hatta’s experience that gained friendship with Jawaharlal Nehru in seminars against colonialism. This friendship then developed into diplomacy, and this diplomacy helped Indonesia when Nehru takes sides and supported Indonesia’s independence in front of the United Nations right after 1945.
Bearing in mind that the past experience had shown us how we are able to make changes through actions taken in foreign countries that would eventually shape and influence the national development that will bring Indonesia become a greater nation. Unfortunately, till today there has not a global unity among Indonesian youth across the world nor enough coordination and communication between domestic and international youth movement. Consequently, the youth movement and its role are become powerless to tackle current challenges.
Minggu, 07 November 2010
Di penghujung bulan Oktober 2010, di antara hujan yang kadang kala mengguyur kota atau langit yang senantiasa dihiasi awan, masyarakat Indonesia bisa menyaksikan peristiwa hujan meteor Orionids yang terjadi setiap tahun kala Bumi melintasi sisa debu ekor Komet Halley.
Kilatan meteor yang melintas tersebut dapat dilihat pada tanggal 15 Oktober – 29 Oktober dari rasi Orion si pemburu. Puncak hujan meteor ini akan terjadi pada tanggal 21 Oktober 2010.
Pada malam puncak hujan meteor tersebut, Rasi Orion akan terbit pada pukul 21.00 wib sehingga waktu terbaik untuk melakukan pengamatan hujan meteor Orionid yang radiannya tampak dari rasi Orion ini adalah setelah lewat tengah malam. Untuk pengamat di langit selatan, diperkirakan meteor yang akan tampak sekitar 40 meteor per jam.
Pada tanggal 20 Oktober 2010, jika anda memiliki teleskop, anda juga bisa menikmati komet 103P/Hartley 2 yang sedang melintas cukup dekat dengan Bumi pada jarak 0,12 SA. Kendalanya, pada tanggal 21 Oktober tersebut, bulan akan memasuki fasa purnama sehingga ia masih bersinar sangat terang di langit. Selain itu jika anda berada di perkotaan jelas polusi cahaya akan menambah masalah lainnya.
Di malam yang sama, Jupiter juga akan tampak indah bertengger di langit bersama ke-4 satelit Galileannya (Io, Europa, Ganymede, Calisto). ? Bagi yang ingin menikmati indahnya malam bisa juga memasang teleskop untuk melihat Jupiter dan ke-4 satelitnya ini. Sedangkan untuk pengamatan hujan meteor tidak diperlukan alat apapun, cukup menggunakan mata tanpa alat bantu dan siapkan juga peta bintang untuk melacak keberadaan Orion sang pemburu.
Sabtu, 06 November 2010
Dua Tahun Lagi Bisa Piknik ke Luar Angkasa
Pesatnya ilmu pengetahuan memungkinkan setiap orang dapat melakukan perjalanan jauh, termasuk ke luar angkasa. Faktanya, Amerika Serikat (AS) memiliki landasa pacu yang peruntukannya bagi pesawat ruang angkasa komersial di New Mexico, yang dikelola Taipan Inggris, Sir Richard Branson, selaku owner Virgin Group, yang menaungi Virgin Galactic.
Prediksinya, landasan itu beroperasi 18 bulan mendatang atau awal 2012. Peresmian landasan pacu itu ditandai oleh terbang lintas pesawat induk yang membawa SpaceShip Two. Rancangan pesawat ini adalah membawa wisatawan untuk perjalanan ke ruang angkasa. Tiket per orangnya seharga 200 ribu dolar AS atau sekitar Rp 2 miliar.
Sir Richard Branson mengatakan, wisatawan pertama pertama terbang sekitar 18 bulan mendatang. "Saya kira penerbangan yang berlangsung indah, membuat orang duduk tegak dan menyadari bahwa ini benar-benar kenyataan. Hari ini sangat personal karena mimpi kami menjadi lebih nyata," tandas Branson.
Kabarnya, sampai saat ini, sekitar 300 orang lebih sudah mendaftar dan membayar untuk turut mengikuti perjalanan ruang angkasa, yang memerlukan total waktu sekitar 3 jam.
Untuk pertama kalinya, Virgin Galactic, perusahaan wisata antariksa yang didirikan pengusaha Inggris, Sir Richard Branson, sukses melakukan uji coba penerbangan SpaceShipTwo, pesawat wisata antariksa yang akan digunakan.
Pada percobaan-percobaan sebelumnya, SpaceShipTwo masih menempel ke badan pesawat induknya yang bernama WhiteKnightTwo. Namun, pada uji penerbangan yang dilakukan pada Minggu (10/10/2010) akhir pekan lalu, pesawat ini terbang solo di atas Gurun Mojave, California, AS. Pesawat induk membawa SpaceShipTwo lalu melepaskannya pada ketinggian 45.000 kaki (sekitar 13,7 km). Begitu melepaskan diri, pesawat tersebut melesat selama 11 menit sebelum mendarat.
Meski demikian, bukan berarti pesawat tersebut siap digunakan untuk penerbangan ke batas luar angkasa. SpaceShipTwo harus menjalani uji coba sampai sanggup terbang hingga ketinggian di atas 100 kilometer yang merupakan batas pengaruh gravitasi Bumi. Pesawat tersebut juga harus melakukan uji beban karena didesain untuk diisi enam penumpang.
"Masih banyak target yang harus dicapai agar upaya menyediakan wisata antariksa komersial menjadi kenyataan. Ini merupakan langkah yang sangat besar. Kami sekarang tahu bahwa pesawat antariksa bisa meluncur. Kami tahu ia bisa lepas dengan aman dari pesawat induknya dan kami tahu ia dapat mendarat dengan aman. Itu tiga langkah besar," ujar Sir Richard Branson.
SpaceShipTwo akan melakukan rangkaian peluncuran sebelum uji coba melesat hingga batas antariksa. Menurut Branson, tahap paling penting berikutnya adalah tes kemampuan roketnya. Percobaan roket di darat sudah dilakukan ribuan kali. Namun, uji coba itu belum pernah dilakukan saat pesawat mengudara. Pesawat ini merupakan rancangan Burt Rutan dari hasil pengembangan pesawat SpaceShipOne yang menang dalam kompetisi bergengsi berhadiah 10 juta dollar AS Ansari X Prize yang ditujukan untuk mewujudkan perusahaan roket swasta ke luar angkasa.
Meski tahap komersialisasi masih butuh waktu, wisata luar angkasa yang ditawarkan Virgin Galactic laku keras. Sebanyak 370 orang telah mendaftar dan telah membayar uang muka total mencapai 50 juta dollar AS. Ongkos yang ditawarkan Virgin Galactic untuk wisata ini sebesar 200.000 dollar AS per orang atau jauh lebih murah daripada wisata dengan pesawat ulang alik yang mencapai 30 juta dollar AS per orang. Namun, jangan harap menikmati wisata beberapa hari di luar angkasa. Dengan SpaceShipTwo, turis memang hanya dibawa ke ambang batas gravitasi dan menikmati dunia tanpa bobot selama beberapa saat sebelum akhirnya mendarat kembali (ya...................... kok cma beberapa saat.......).
MEKSIKO - Gedung terminal Sir Norman Foster’s Virgin Galactic di padang pasir New Meksiko dan sejumlah pesawat berbentuk futuristik siap membawa wisatawan menembus atmosfer.
Memang, itu masih cetak biru yang hendak direalisasikan. Hal pertama yang akan dilihat di bandara yang disebut Mojave Air & Space Port itu ialah sejumlah pesa-wat komersial yang diparkir di bawah terik sinar matahari gurun pasir. Iklim di daerah itu merupakan lokasi yang tepat bagi manufaktur pesawat untuk menyimpan armada terbang mereka.
Lokasi itu lima mil dari Tehachapi Pass Wind Farm, pembangkit listrik tenaga angin terbesar kedua di dunia dengan 5.000 turbin angin. Pemandangan di sana tampaknya telah menginspirasi pengusaha luar biasa dan para pemikir yang menggerakkan industri alternatif. Salah satunya tentu Spaceship Company yang memiliki workshop pembuatan pesawat ulang-alik.
Pesawat ulang-alik ini dibuat dari serat karbot yang diberi tenaga dari gas dan nilon daur ulang.Pesawat itu dapat meluncur lurus ke bumi setelah melakukan penjelajahan antariksa. Sir Richard Branson pemilik Virgin Galactic bukanlah satu-satunya perusahaan yang mengincar pasar wisata antariksa secara serius. Ada beberapa pesaing,termasuk Sir Norman Foster yang mendesain bandara Spaceport America di New Meksiko.
Virgin Galactic hampir mendekati tekadnya untuk merealisasikan mimpi bahwa orang-orang biasa dapat melakukan perjalanan antariksa. Cukup membayar 140.000 poundsterling (Rp1,9 miliar) untuk melakukan perjalanan antariksa. “New Meksiko telah mengesahkan undang-undang pada Maret untuk mengizinkan peserta yang serius dalam program wisata antariksa,” papar Will Whitehorn, mewakili Virgin Galactic.
“Saat ini, berdasar regulasi Amerika Serikat, orang-orang ini dapat berpartisipasi dalam program antariksa tersebut”. Menurut Virgin Galactic, baru 500 orang yang pernah berada di antariksa sejak 1961-an melalui berbagai program pemerintah di sejumlah negara.Virgin Galactic bertekad membawa 500 orang pada tahun pertama perusahaan wisata antariksa itu mulai beroperasi.
Untuk mencapai target tersebut, Virgin Galactic memerlukan satu armada pesawat antariksa yang dapat membawa wisatawan menuju ketinggian 50.000 kaki pada hari peluncuran pertama. Rencana ini dibuat Spaceship Company, perusahaan patungan antara Virgin Galactic dan Scaled Composites yang berbasis di Mojave.
Mereka akan membangun tiga pesawat peluncuran dan lima pesawat ulang-alik.Ini sesuai upaya Virgin Galactic membawa wisatawan menuju ruang sub-orbit pada tahun 2012.Virgin Galactic juga menargetkan tiga kali pener-bangan setiap hari menuju antariksa
Tinggal merogoh kocek begitu dalam, sekitar Rp 2 miliar (cuma 2 miliar kok........ ga banyak-banyak), Anda sudah bisa melancong ke antariksa. Hebatnya lagi, bandara untuk tinggal landas pesawat ulang aliknya sudah dioperasikan di New Meksiko, Amerika Serikat (AS). Peresmian landasan pacu itu ditandai dengan terbang lintas pesawat induk yang membawa SpaceShip Two.
Taipan Inggris, Sir Richard Branson, mengatakan, wisatawan pertama akan terbang sekitar 18 bulan dari sekarang. Perusahaan milik Branson, Virgin Group, yang berada di belakang pengelola wisata ruang angkasa ini, Virgin Galactic. "Hari ini sangat personal karena mimpi kami menjadi lebih nyata," kata Branson, sebagaimana warta AP dan AFP, Sabtu (23/10/2010).
"Orang mulai percaya sekarang. Saya kira penerbangan dua pekan lalu, yang berlangsung dengan indah, membuat orang duduk tegak dan menyadari bahwa ini benar-benar kenyataan," imbuhnya.
Pembukaan landasan pacu sepanjang hampir 3 km ini memang hanya sekitar dua minggu setelah terobosan lain dari Virgin Galactic, yaitu terbang solo pertama SpaceShip Two.
Dilaporkan, lebih dari 300 orang sudah mendaftar dan membayar untuk perjalanan ruang angkasa yang total akan memakan waktu sekitar 3 jam.
SpaceShip Two kelak akan dibawa terbang ke ketinggian untuk meluncur ke ruang angkasa oleh pesawat induk White Knight Two, yang melintas dalam acara pembukaan landasan pacu di Teluk Meksiko.
Pesawat induk itu, dengan membawa SpaceShip Two, melintas beberapa kali sebelum mendarat di landasan pacu yang baru.
















